Minggu, 01 September 2019

Dongkrek: an Islamic Art and Literature

0

     Dongkrek is held to have been created by the late R. Bei Lo Prawirodipuro while he was serving as the palang of Mejayan (Caruban). during the colonial era, a palang was an individual responsible for 4-5 village chiefs, or lurah; as the "head lurah, the palang was directly accountable to the wedana. R. Bei Lo Prawirodipuro was the last palang of the region, serving until his death c. 1915/1916. At the time, the office of palang had already been disbanded; however, R. Bei Lo Prawirodipuro received special treatment. This is attributed to his personal leadership abilities and authority, which led to him being respected as a decision-maker.
     The story of dongkrek’s invention can also be tracked through a song in gambuh verse. According to a book written by the Office of Education and Culture, Madiun, the name dongkrek is derived from onomatopoeia of the two instruments used in performances: bedug (drums) and korek (a kind of percussion instrument). Drums produced the sound dhung, while korek produced the sound krek; as such, played alternatively the instruments produced the sounds dhungkrek-dhung-krek. It is from this sound that the name dongkrek was taken. Dongkrek is a form of performance art. In its performance, it conveys specific messages, including amar ma’ruf nahi munkar (that evil will be vanquished by good).
      In the current information era, dakwah has continued to innovate. This includes, for example, through the use of dongkrek and its strongly Islamic messages. Dongkrek is a traditional performance art that has developed in and around Mejayan Village. Its use in dakwah is an adaptation of the methods used by the Wali. The connection between dakwah and dongkrek is mutually beneficial, promoting innovative dakwah as well as cultural conservation.  
 

Kamis, 28 Juni 2018

Gue Udah Boleh Nyoblos!

1

Milih pasangan aja ngga mampu apalagi milih pemimpin. 

Aloha, pembaca blog gue, enaknya dikasih nama apa ya buat pembaca blog ini? Ngga usah kasih nama lah ya, pakai nama kalian sendiri aja. Paan si garing :v

Kebetulan gue belum masuk sekolah, masih liburan. Liburan kali ini cukup panjang karena libur PAT dan libur lebaran dijadiin satu. Tapi rasanya masih tetep kurang. Alhamdulillah gue naik ke kelas XII. gue akan menjadi senior di sekolah karena menjadi kelas tertua.

Sekarang gue udah 17 tahun. 22 April lalu ulang tahun, ternyata gue udah besar. Sudah bisa dapat KTP, SIM, dan udah boleh nikah (Eh, udah boleh kan ya?). Udah boleh ikutan nyoblos dong, padahal KTP belum jadi. Kemarin waktu Pilgub Jawa Tengah gue udah menggunakan hak suara. Semakin tua seseorang maka pemikirannya akan semakin dewasa. Ingat, tua dan dewasa itu berbeda. Tua adalah masalah kuantitas, sementara dewasa mengenai kuantitas. Belum tentu yang usianya lebih tua memiliki pemikiran yang dewasa. Ya, ini terjadi pada gue. Gue ngerasa belum dewasa, meskipun sudah berusia 17. Gue masih seneng main, belum begitu berpikir tentang masa depan dan masih labil.

Gue pengin cerita tentang liburan selama 3 minggu ini. Kalau dulu masa kcil gue, tiap libur sekolah banyakan ceritanya pasti tentang liburan ke rumah nenek. Menurut gue, liburan tahun ini seru banget. Awal liburan, gue udah sibuk menyiapkan acara IPNU IPPNU, yaitu Makesta. FYI, Makesta itu masa kesetiaan anggota, jadi seperti jenjang pendidikan di IPNU IPPNU. Kalau belum mudeng apa itu IPNU IPPNU coba baca postingan gue sebelumnya. Jadi, Makesta itu tahap awal pendidikan di IPNU IPPNU. Acaranya berlangsung selama 3 hari. Merupakan kesempatan emas, gue bisa jadi bagian panitia acara ini. Acaranya sih cuma 3 hari, tapi persiapannya sebulan. Dimulai dari penentuan panitia, gue kebetulan dapat posisi SC seksi acara. Awal-awal gue pikir ngga bakal ngapa-ngapain, karena kalau gue di sekolah biasanya yang ngehandle acara itu pengurus hariannya, yang seksi mah tiggal ngacir doang. Ternyata, jauh dari ekspektasi, bejibun tugasnya. Menentukan tema acara, konsep acara, nyari narasumber, mengontrol berlangsungnya acara. Kabar baiknya, gue punya tim yang solid. Ada Mba Sajidah, orangnya gendut tapi baik banget, Mba Rikha dan Mba Icha, mereka berdua tak terpisahkan. Syukron yang tinggi dan cocok banget kalau jadi MC. Rifqi Ali alias Wangseng wkwkwk, dan yang terakhir ada Mas Falah kebetulan kita sama-sama di posisi SC, bedanya gue lebih banyak ongkang-ongkang dia lebih banyak kerja bahkan sampai lembur, emang dia ini orangnya totalitas banget di organisasi ini. Awal-awal tau kalau bakalan kerja bareng sama dia gue ngga nyaman sih, soalnya orangnya ini kaku, irit ngomong. Gue yang pecicilan bisa apa :v. Dia ini jadi idola banyak cewek, hoho, ganteng si emang, tapi tetep gantengan Reza Rahadian. Semakin ke sini, gue udah biasa sama karakternya yang emang garing tapi kadang error juga sih, haha. Oke skip.
Suasana Makesta. Saat narasumber menyampaikan materi.
Yang paling berkesan dari acara Makesta ini adalah waktu pembaiatan. Sesuai jadwal yang dibuat oleh tim, pembaiatan dilaksanakan pukul 2 pagi. Padahal agenda terakhir hari sebelumnya itu sampai jam 12 malam, artinya, hanya punya waktu 2 jam buat tidur. Gue waktu itu ngga bisa tidur, karena mikirin apa aja yang perlu dipersiapkan. Alhasil, pukul setengah 2 gue mandi, biar fresh kemudian ngebangunin Mba Icha dan Mba Rikha buat menyiapkan kebutuhan pembaiatan; air kembang, kopi pahit, sama susu manis. Harusnya kopinya emang dibikin pahit dan item banget, karena waktu itu stok kopi yang kita punya ternyata tinggal dikit dan malah banyakan white coffeenya, akhirnya gue campurin dah tuh dua-duanya, hasilnya? Parah banget, ancur :v Bisa bayangin lah gimana peranakan kopi hitam dan kopi putih. Mas Falah nggak kehabisan akal, sisa-sisa kopi hitam milik peserta semuanya dimasukin, untung bukan gue yang minum. Testimoni dari salah satu peserta sih, kopi yang gue buat rasanya enak, wkwkwkwk. Ngga tau aja dia yang gue masukin apa aja (Ketawa iblis). Gue cukup puas sih sama keseluruhan acaranya. Gue dapat banyak pengalaman di sini. Banyak dapat cerita, teman, dan gue sangat menikmati prosesnya.
Pembaiatan
Lanjut, hari-hari akhir liburan, gue isi dengan vacation! Gue jalan-jalan ke Semarang, ngga jauh sih, cuma 3 jam dari rumah gue. Gue ke sana sama temen-temen kelas gue. Ya jadi awalnya gue cuma iseng ngeiyain ajakan temen, tapi ternyata ngga cuma wacana. Jalan-jalan ini bahkan udah direncanain sebelum PAT. Jadi ke Semerang gue naik bus. For the first time sih gue ke Semarang naik bus sendiri, dalam artian nggak sama orang tua, dan bukan bus pariwisata atau bus malam. Seru sih, nongkrong depan jalan raya dan nungguin bus dateng, pengalaman baru. Gue kebetulan dari sini berempat,kemudian ke rumah temen gue, jadi selama di Semarang gue nginepnya di rumah Mba Lamya, baik banget, dikasih makan pula, tau banget kalau gue orangnya gampang laper. Hari pertama kita jalan-jalan ke Lawang Sewu, selama jalan-jalan di Semarang kita naik grab car, lebih mudah, efesien dan pastinya irit. Seperti lazimnya anak-anak zaman sekarang, di sana gue foto-foto. Cari spot foto paling iconic dan keren, kemudian posting di media sosial. Gue juga berkunjung ke Kota Lama. Gereja Blenduk yang iconic banget. Emang keren banget sih suasana Kota Lamnaya, karena bangunan peninggalan Belanda yang dibiarkan tetap berdiri dan terlihat terawat, beberapa emang udah ada yang roboh sih, nggak tau juga, entah sengaja dirobohin buat dibangun jadi yang lebih baru atau roboh sendiri karena faktor usia.

Hari Kedua kita berkunjung ke Sam Poo Kong! Nonton atraksi Barongsai dan Liong. Keren. Yang gue sesalin selama jalan-jalan di Semarang kali ini adalah, gue waktu itu ke sananya pas libur lebaran sekaligus weekend, ya taulah semua harga naik. Tiket yang mulanya 5000 jadi 10000, makanan naik semua, dan semua tempat wisata rame banget, tiket bioskop jadi mahal. Mumpung di Semarang gue sekalian ke Gramedia, beli buku. Sebagai anak bisnis yang nggak mau rugi, gue kemudian membuka jastip di WA, gue bikin story  kalau gue lagi di Gramedia. Beberapa temen gue nitip buku, ya dari sini gue dapet duit 33K, mayaan bisa dapet makan. Haha. Otak gue memang dirancang untuk tidak mau rugi. Malemnya gue nonton bioskop, kaget si awalnya, secara kalau di daerah gue tiket bioskop paling mahal 35K nah di sana 50K, mau mundur dari antrian tiket tapi sayang, jadi ya udah deh, merelakan duit 50 K. Fix, gue nggak cocok jadi orang kota kalau tau harga bioskop di kota setaraf Semarang aja udah kaget. Gue di Semarang 2 hari doang.
Ini Rotiboy, sumpah enak banget. Harga normal 8K, tapi waktu itu naik jadi 11K. Gue habis 3

Yay, jadi itulah cerita liburan yang menurut gue cukup menyenangkan. Kalau nggak nyambung sama judulnya, emang sengaja gue buat gitu, biar kayak blog-blog click bait. Haha. Dua hari lagi gue udah masuk sekolah, berakhirlah masa libur. Selamat datang kesibukan :)) Yaaah, pegang buku lagi ya?


Senin, 05 Maret 2018

Setelah Mati Suri

0

Hai-hai, gue comeback nih. Udah berapa abad gue nggak nulis di blog ini? Lama banget *bersihin sarang laba-laba*

Oke, sekarang gue udah kelas 2 MA. Padahal terakhir kali nulis di sini itu tahun ajaran baru kelas X, lah ini udah kelas XI semester 2, setahun setengah nggak nulis. Wew. Sebelas hari ke depan gue PTS. Putus? Bukan, ini istilah baru untuk UTS. Setelah diterapkannya kurikulum 2013,  penyebutan UTS diganti dengan PTS (Penilaian Akhir Semester). Begitu juga dengan UAS, sekarang diganti dengan PAS. Agak gimana gitu, tapi ya udahlah, haha. Sebelas hari ke depan akan menjadi hari paling panjang. 24 jam akan menjadi 34 jam. Kenapa ujian gue lebih panjang daripada sekolah lain pada umumnya? Karena sekolah gue anti mainstream. Berani beda. Mapelnya mencakup ilmu umum dan ilmu agama, kalau kalimat promosinya sih gini, tidak ada dikotomi antara ilmu umum dan ilmu agama. Otomatis, karena pelajarannya banyak, maka hari ujiannya juga lama. Apa kabar PTS gue? Gue nggak bisa ngerjain soal-soalnya, di kelas ngantuk mulu. Ya, gue memang pelajar teladan, sangat. Jadi jangan heran, wkwkwk. Bahkan gue nggak bisa ngerjain materi wajib jurusan Bahasa. Bedain frasa sama klausa aja aku tak mampu. Sebagai anak Bahasa aku merasa gagal. Sad.

Hmm, enaknya ngomongin apa ya? Mau ngomongin soal suasana politik dalam negeri rasa-rasanya nggak cocok kalau dicocokin sama muka gue, yakali wajah kriminal bahasnya tentang politik :v Mau ngomongin perkembangan perekonomian dalam negeri, apalah daya, ngerjain soal Ekonomi Lintas Minat aja megap-megap.

Baiklah, gue kayaknya mau bahas tentang kesibukan gue akhir-akhir ini (gaya banget). Ya, seperti makhluk-makhluk bumi lainnya, gue sibuk bernapas, menghirup udara, makan, mencerna makanan, tidur. Sibuk banget kan gue?

Hamdalah, akhir-akhir ini gue sibuk organisasi (cielah). Rapat sana sini, ngerjain tugas ini itu, banyak (please, jangan percaya, hoax :v). Selain menjadi pengurus OSIS di sekolah dengan jabatan yang sebenarnya sangat tidak dibutuhkan, wkwkwwk,  gue lumayan aktif juga di IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama) di desa gue. Hampir setahun belakangan gue ikut berkecimpung (Eh apa? Nyemplung?) di organisasi ini. Waktu awal-awal gue ikut, anggotanya belum terlalu banyak, dan kegiatannya pun masih belum jelas. Tapi alhamdulillah, sekarang anggotanya lumayan bertambah dan kegiatannya sudah semakin jelas. Remaja-remaja dan pelajar di desa gue sebenarnya banyak, tapi mungkin yang ikut organisasi ini hanya 10%nya saja. Antara karena mereka malas berorganisasi atau kitanya yang kurang sosialisasi, nggak tahu juga deh. Gue senang bisa ikut organisasi ini. Banyak bentuk, karakter, sifat manusia hidup yang gue temukan di sini. Dari sini setidaknya gue belajar bahwa dunia luar sana nggak senyaman kamar gue, haha. Kadang gue mikir keras dengan sifat-sifat mereka, karakter yang belum pernah gue temuin di sekolah dan lingkungan lainnya, gue bisa temukan disini. Karakter si baik, si sok penting, si sensitif, si pintar, si kamvret, si gombal, dan si si yang lain. Dari sini gue juga tambah pengalaman, soalnya kita berasal dari beda-beda sekolah. Jadi, bisa tukar pikiran. Dan, gue bisa punya teman cowok, itu bonusnya (Jangan bilang siapa-siapa, wkwkwk). Kebetulan setiap kegiatan antara IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) dan IPPNU itu digabung, jadi mau nggak mau ya pasti ketemu dan kerja sama. Awal-awal gue agak risih juga, tapi lama-lama juga terbiasa, yang penting niatnya, ehe. Harus bisa jaga hati, demi melestarikan gerakan jomblo fi sabilillah, ea. Give me applause, please!


Buat ginian biar apa? Biar bisa diupload di story WA ;V


Minggu lalu, tepatnya hari Jum'at kita memberanikan diri buat ngadain acara. Tidak terlalu besar, acara kecil-kecilan, sederhana saja. Awalnya takut untuk memulai, tapi darimana kita mau berkembang jika memulai saja tidak berani? Dengan kebulatan tekad akhirnya kita memberanikan diri, sekaligus langkah awal kita buat memperkenalkan organisasi ini. Itu tadi yang ngetik siapa coba? Kalau gue mah, ngadain acara ini biar bisa foto-foto di backgroundnya acara, upload di WA story biar keliatan keren. Hahaha (ketawa setan :v) Acaranya ngga berlangsung sesuai ekspektasi kita, ya karena cuaca sangat tidak mendukung. Hujan deras, dan petir menggelegar sedikit menghambat acara kita. Akibatnya, sasaran kader baru banyak yang ngga hadir. Sia-sia? Tentu tidak, seenggaknya konsumsi banyak yang lebih, jatah gue semakin banyak. Seenggaknya, setelah itu ada beberapa kawan yang ngontak gue dan pengin gabung gara-gara gue upload foto sok penting di WA story. Ya, intinya harus berani memulai, gue pikir ini salah satu langkah awal yang berani. Dan buat kalian yang belum pernah ngerasain organisasi, kalian adalah makhluk rugi. Sebenarnya, organisasi itu bikin rugi, capai, pokoknya banyak ngga enaknya, tapi kalian akan rugi kalaau belum ngerasain kenikmatan organisasi.
Ini ceritanya tim paduan suara, dikit kan? Ya karena belum banyak anggotanya. Karena ini awal dari berani memulai.

Narasumber acara

Ada rebananya, namanya Syubbanul Muttaqin pemeriah acara, uwuw

Ya, jadi begitu kawan-kawan. Manfaatkan waktu luang kalian dengan hal yang bermanfaat. Misalnya ya itu tadi, dengan ikut organisasi. Ngapain masa muda hanya dihabiskan dengan online di media sosial, stalking akun sosial media mantan, dan hanya berujung sakit? Nirfaedah sekali. Habiskan waktu muda kalian untuk hal-hal yang bermanfaat. Kalau menurut gue nih ya, sekolah doang tuh nggak bisa memaksimalkan kemampuan, kepekaan, dan kepedulian dengan sekitar. Ikut organisasi itu juga bagian dari belajar, serunya lagi ini nggak hanya sekedar materi belaka yang kemudian diujikan dan mendapat nilai. Disini gue praktek, diujikan di tengah masyarakat secara langsung, dan dinilai oleh masyarakat. Menurut gue itu lebih greget.
Nah, jadi begitu ya. Siapkan mental, kenali sekitar, dan taklukkan dunia! (Apasi :v)
 



Minggu, 04 September 2016

COMEBACK!

3

Aloha!

Akhirnya gue comeback. Udah setahun lebih nggak ngeblog. And now gue udah kelas X MA. Huwew, banyak banget kisah hidup gue selama setahun ini. Mulai dari yang pahit, manis, pahit banget sampai yang sweet banget. Penuh warna. Oke, gue bakalan cerita yang manis-manis ajalah ya. Here we go...
Ini waktu MOPDIBA (Masa Orientasi Peserta DIdik Baru) Temen baru gue banyak

Oke, karena sekarang sekolah gue menerapkan kurikulum 2013, maka di kelas X udah ada penjurusan alias milih program. Gue sendiri waktu kelas IX bingung mau milih jurusan. MIPA? Hmm, gue kan sering tawuran sama matematika, so mana mungkin dengan gampang buat berdamai sama angka-angka biadab itu. Ini bukan pilihan terbaik, ya walapun sebenarnya nyokap nyuruh buat masuk jurusan ini. Tapi gue mikir-mikir lagi, kalau milih jurusan ini, sementara gue sama sekali nggak nyaman, nggak minat, nggak berbakat pula, lah terus buat apa? Sementara jurusan Sosial malah sama sekali nggak ada minat di situ. Satu lagi pilihan yang udah gue incer dari kelas VIII, program Bahasa. Sesuai minat dan mungkin bakat gue. Tapi masalahnya, peluang untuk masuk Universitas untuk program Bahasa itu amat terbatas. Di sekolah gue, cuma ada tiga kelas pula, peminatnya dikit banget. MIPA ada tujuh kelas, Sosial ada enam kelas, setengah dari kelas gue. Satu kelas pun rata-rata hanya ada 30 penghuni, sementara kelas lain bisa mencapai 40 hingga 50 penduduk. Bejubel sih emang. Tapi kalau temannya banyak, otomatis semangat buat jadi yang terbaik juga lebih besar. Gue sendiri masih bingung antara masuk MIPA atau Bahasa. Dalam hati gue sih pengennya masuk Bahasa, tapi ada hati lain yang menginginkan buat masuk MIPA. Gue konsultasi ke beberapa kakak kelas yang udah kuliah, baik yang dari jurusan IPA, IPS, maupun Bahasa. Rata-rata dari mereka menyarankan untuk masuk Bahasa. Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama untuk bersemedi menentukan mana jodoh eh jurusan yang tepat buat gue, akhirnya gue milih Bahasa.
Ini temen-temen gue dari kelas X Bahasa 2


Gue seneng banget, punya banyak teman yang cerewet-cerewet, yang secara otomatis membuat gue terlihat seperti anak pendiam. Huehe. Punya banyak teman-teman tengil, usil, nyebelin, ada aja topik nggak penting yang bisa mereka bikin penting kemudian didiskusikan bersama. Kadang heran sama mereka, tiap hari ada aja yang lucu, tiap hari pasti ketawa bareng. Sesulit apapun tugas, tapi kita semua sama-sama bersinergi buat ngerjain itu. Hal ini pasti nggak bakal gue dapetin kalau masuk program lain, apalagi MIPA, kalau di sekolah gue, beuh anaknya terkenal serius, mereka fokus sama satu tujuan, dapetin podium pertama. Udah gitu, mereka menghabiskan waktu dengan belajar teori-teori yang menyebalkan (Ini menurut gue loh ya, jangan ditanggepin serius-serius amat)

 Gue senang, gue melakukan sesuatu sesuai passion gue. Misalkan itu berat banget, gue tetep melakukan itu dengan enjoy, karena suka. Terasa ringan, namun bukan berarti tanpa hambatan maupun rintangan. Teman sekelas gue hanya 34 orang, sedikit sekali jika dibandingkan dengan kelas lain. Kita kesulitan banget waktu ada lomba antar kelas, susah buat milih anak soalnya. Tapi, semuanya pasti ada plus minusnya, yang paling penting, gue udah memilih apa yang gue suka, menurut hati gue, bukan menurut hati orang lain. Ini pilihan gue, dan gue akan bertanggung jawab atas pilihan gue ini. Misalkan gue kecewa dengan pilihan gue, setidaknya gue kecewa gara-gara diri gue sendiri bukan orang lain. Ini hidup gue dan gue bebas memilih apa yang gue suka.
#SalamSastra

Jumat, 24 Juli 2015

Ceritanya Reunian

3

Sebelumnya, Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Iya sih telat tapi nggak apa-apa kan?. Gimana lebarannya? Udah naik berapa kilo berat badannya? Dapet berapa duit dari om tante pakdhe budhe atau siapa aja yang tersesat ngasih uang ke kamu? Berapa rumah yang udah kamu datengin? Udah berapa toples nastar yang kamu habisin?.
Kalo gue sendiri, sibuuuk banget libur lebaran tahun ini, sibuk ngabisin oreo sama good time ditoples. Dari mulai hari pertama gue ke rumah saudara yang ada di desa gue. Kemudian siangnya ke rumah nenek gue dan baru balik ke habitat pas hari kedua lebaran. Lanjut di hari ketiga rumah gue sesak dengan sepupu-sepupu gue. Mereka semua ngumpul dirumah gue.

Sebenernya yang paling berkesan itu hari keempat sama hari ini, soalnya hari pertama, kedua, ketiga lebaran itu memang udah jadi agenda wajib keluarga gue untuk ngumpul bareng. hari keempat bersama pasukan temen-temen alumni MI Nahjatul Falah kita ngumpul bareng. Sebenarnya rencana yang dibuat itu kita semuanya ngumpul bareng yang jumlahya  34 anak. Ah, itu harapan susah didapetnya yang dateng cuma beberapa gelintir doang. Karena mereka yang ditungguin nggak dateng juga, akhirnya kami gelintiran anak doang memutuskan untuk segera capcus dari tempat ngumpul untuk bersilaturrahmi ke rumah guru-guru MI. Fakta yang didapat dari lapangan, sebagian dari guru-guru tersebut udah asing sama wajah-wajah kita.
Ini waktu dirumah guru, gue yang paling depan

Gue sendiri sempet aneh sama beberapa wajah teman gue, mereka tuh sedikit banyak ada perubahan. Maklum lah bisa ketemu dan ngmpul bareng sama mereka setelah lulus adalah hal yang langka. Dari segi wajah, mereka sih nggak ada perubahan, mungkin suara aja yang agak berubah, sifat dan cara berpikir mereka juga udah berubah. Sebenarnya banyak banget kenangan yang pengin diceritain kembali alias flashback kalau lagi ngumpul bareng temen. Gue sendiri juga nggak banyak yang inget tentang peristiwa-peristiwa yang udah terjadi waktu MI, hanya yang menurut gue terkesan aja yang paling gue inget.

Nah karena pas hari keempat itu nggak pada ngumpul semua, akhirnya hari ini agendanya kita ngumpul bareng. Semacam reuni gitu, eh emang reuni ding. Menurut gue, kalo reuni  ada rentetan acaranya itu pasti nggak enak banget. Reuni itu temu kangen, jadi kalau udah ketemu, melepas rindu, ngobrol bareng, flashback bareng, gosipin hal yang lagi hits tentang temen  itu juga udah reuni kok.

Oh ya makasih banget buat Nina (bukan nama samaran) yang udah ngasih tempat kita untuk ngumpul bareng. Dikasih makan pula, yang paling bikin top sih semuanya GRATIIIIS, yuhuu. Btw, sorry ya rumahnya udah diacak-acak. Terimakasih semua, semoga kita bisa berkumpul kembali pada kesempatan yang akan datang!

Bonusnya, yang nggak ketinggalan adalaah...
Wefie!!


Gue(jilbab ijo), Nina (empunya rumah), Salma (temen paling gokil)

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com